Program beasiswa MBA tersebut terdiri dari beberapa pilihan negara yaitu di Amerika Serikat, Australian Education International di Australia, di Prancis, di Inggris, serta di Singapura.
Syarat utamanya, pelamar beasiswa harus memenuhi seluruh persyaratan di bawah ini, yang antara lain adalah warga negara Indonesia, berusia maksimal 35 tahun saat mendaftar program beasiswa ini, lulus S1 dari universitas lokal dan dari jurusan apapun dengan IPK minimal 3.00 (dalam skala 4.00), memiliki pengalaman kerja penuh-waktu selama minimal 2 tahun setelah menyelesaikan pendidikan S1, serta tidak sedang mengikuti pendidikan S2, ataupun sudah memiliki gelar S2 atau sederajat.
Read the rest of this entry »
Satu lagi penghargaan ditorehkan putra terbaik bangsa. Shofwan Al-Banna Choiruzzad, mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Jepang memenangkan The 39th St Gallen Symposium yang berlangsung di Swiss, 7–9 May 2009.
St Gallen Symposium adalah acara tahunan yang dihadiri sejumlah pemimpin bisnis dan politik dari seluruh dunia untuk berdialog dengan para pemimpin muda. Dalam acara tersebut, para ratusan pemimpin muda diseleksi lewat karya tulis bertemakan krisis global, untuk kemudian diambil 3 terbaik dan dipersilakan menyampaikan gagasannya di hadapan forum dunia.
Shofwan, sapaan akrab anak muda kelahiran Juli ‘85 ini, menjadi pemenang pertama dari tiga besar tersebut. Dengan karya tulis berjudul ‘Boundaries as Bridges: A Reflection for Transnational Business Actors’, ia mengungguli Jason George, mahasiswa program master dari Harvard University (peringkat 2) dan Aris Trantidis, mahasiswa program doktoral dari London School of Economics (peringkat 3).
Sekali lagi anak muda Indonesia menorehkan prestasi. Kali ini tiga mahasiswa Indonesia mendapat penghargaan Mondialogo Award dari UNESCO dan perusahaan Jerman Daimler AG yang memproduksi mobil mewah Mercedez Benz, di Stuttgart, Jerman 4-9 November lalu. Selain kepada tiga mahasiswa teknik Indonesia berprestasi, Mondialogo Engineering Award juga diberikan kepada 60 mahasiswa berprestasi dari 28 negara.
Mondialogo Engineering Award (MEA) adalah perlombaan tingkat internasional yang diprakarsai oleh Daimler Crysler dan UNESCO yang bertujuan mendorong mahasiswa teknik dari berbagai negara berkembang dan negara maju untuk bekerja sama membentuk tim internasional. Tim ini kemudian membuat proposal proyek yang ditujukan untuk mensukseskan United Nations Millennium Development Goals, terutama untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup warga di negara berkembang.
Penghargaan itu terbagi dalam 30 proyek yaitu bidang pembangunan, pengentasan kemiskinan dan lingkungan. Ketiga mahasiswa Indonesia itu adalah Annisa Utami, Annisa Sekar Palupi dan Benny dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dengan proyek Zero Waste Production System in Small/Medium Industrial Cluster yang meraih medali emas. Mereka menjadi salah satu dari 30 finalis yang berhasil mengungguli kurang lebih 932 proposal yang datang dari berbagai negara di dunia.
'NXP Lego', nama robot itu, adalah hasil rakitan tiga siswa SMP Salman Al-Farisi Bandung, Jawa Barat, yang sukses menjuarai kontes di Singapura pada 3-6 Juni 2009 lalu. Tim ini berhasil mengandaskan 8 tim lain termasuk "jawara" Singapura.
BANDUNG, KOMPAS.com - SMP Salman Al-Farisi Kota Bandung menggondol juara pertama ‘World Robo Master Cup 2009′, sebuah kompetisi robot rakitan SMP se-ASEAN di Singapura yang digelar awal Juni lalu.
‘NXP Lego’, nama robot itu, adalah hasil rakitan tiga siswa SMP Salman Al-Farisi Bandung, Jawa Barat, yang sukses menjuarai kontes di Singapura pada 3–6 Juni 2009 lalu.
Tim ini berhasil mengandaskan 8 tim lain termasuk “jawara” Singapura. Mereka adalah Adrian Putra Manggala, Naufaldie Adikusumah, dan Fauzi Maulana Hakim, yang tergabung dalam tim ‘Haiya Boy’.
“Sukses ini merupakan sebuah kebanggaan dan kami berharap staf pengajar dan pembimbing mereka terus memberikan binaan dan menyalurkan potensinya,” kata Gubernur Jawa Barat, H Ahmad Heryawan di Bandung, Kamis (18/6).
Atas kemenangan tersebut, tim ‘Haiya Boy’ yang terdiri dari siswa kelas tiga sekolah tersebut berhak atas medali emas kategori “Prison Break”. Robot cerdas mereka menjadi satu-satunya robot yang menyentuh garis finis. Selanjutnya, tim ini diproyeksikan mengikuti ‘Olimpiade Robot Internasional’.
Tim Salman Al-Farisi, yang sejak awal merupakan juara robotik tingkat nasional, itu mampu keluar sebagai juara setelah menyisihkan pesaingnya dari 10 negara lainnya. Kesepuluh negara itu termasuk di dalamnya tim tuan rumah Singapura, yang dikenal kuat di bidang robotik.
Indonesia menempatkan tim "Creator" berhasil meraih juara kedua, sedangkan tim "Alpha-Rex" merebut juara ketiga. Adapun juara pertama diraih oleh tim "White Lego" dari Korea Selatan.
JAKARTA, KOMPAS.com - Tim Indonesia berhasil meraih juara kedua dan ketiga untuk kategori “Junior Regular Category” di ajang Olimpiade Robot Dunia (World Robot Olympiad/WRO) 2009 yang berlangsung pada 6-8 November 2009 lalu di Korea Selatan.
“Prestasi yang dicapai tim Indonesia kali ini merupakan hasil terbaik yang diperoleh Indonesia sejak mengikuti WRO pertama kali pada 2004,” ujar Humas dan Promosi Mikrobot, Paula Augusta, dalam siaran persnya, Selasa (17/11).
Ajang kompetisi tingkat internasional ke-6 yang diadakan di Gyeongbuk Pohang, Korea Selatan, itu diikuti lebih dari 1.000 peserta dari 24 negara di seluruh dunia. Kompetisi WRO terbagi dalam dua kategori, yaitu Regular Category dan Open Category.
Dikatakannya, dalam Regular Category, peserta harus merakit sebuah robot untuk menyelesaikan suatu tantangan tertentu. Sementara itu, pada Open Category peserta bebas merakit robot menurut tema tertentu, yang kemudian mempresentasikan ciptaannya di hadapan dewan juri.
Impian Indonesia diajang Internasional kompetisi robot cerdas menjadi kenyataan dengan berhasilnya Tim Robot Indonesia meraih Juara 1 dan menggondol medali Emas pada The 2009 Internasional Robogames yang diadakan di Fort Mason, San Francisco, Amerika Serikat, Minggu 14 Juni 2009
Robogames merupakan salah satu ajang kompetisi/kontes robot Internasional tahunan terbesar yang menyelenggarakan lebih dari 70 kategori pertandingan dan diikuti sekurang-kurangnya 25 negara. Dengan jumlah pertandingan yang begitu banyak maka ajang ini mendapat predikat “World’s Largest Robot Competition” dari Guinness Book of Records.
Dari sekian banyak kategori yang dipertandingkan, Indonesia hanya mengikuti satu kategori yaitu Open Fire Fighting Robot Contest. Kategori ini merupakan salah satu kategori tersulit karena robot harus bersifat “autonomous” (bergerak dan mengambil keputusan sendiri tanpa intervensi manusia) dan tidak dikendalikan secara “remote” seperti kategori lainnya.